Kamis, 22 November 2012

Model-Model Pengembangan Kurikulum

1. Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Menurut Good dan Travers dalam Sanjaya (2010:82), model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Menurut Arifin (2012:137), model atau konstruksi merupakan ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar. Sedangkan pengembangan kurikulum menurut Sukmadinata (2012:31) adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Berdasarkan pengertian model dan pengembangan kurikulum di atas dapat disimpulkan bahwa Model pengembangan kurikulum adalah ulasan teoritis dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada masa mendatang.

2. Model-Model Pengembangan Kurikulum 
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Setiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya maupun dilihat dari tahapan pengembangannya. Pemilihan suaatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencaiapai hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. 
Zais dalam Arifin (2012:137) mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum, yaitu: 
1. The Administrative (Line –Staff) Model 
2. The Grass-Roots Model 
3. The Demostration Model 
4. Beauchamp’s System Model 
5. Taba’s Inverted Model 
6. Roger’s Interpersonal Relations Model 
7. The Systematic Action-Research Model 
8. Emerging Technical Model 

1) The Administrative (Line –Staff) Model 
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model
paling lama dan paling banyak dikenal. Model ini diberi nama model administratif atau line-staff atau bisa juga dikenal top-down karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator atau dari pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan, kemudian secara struktural dilaksanakan di tingkat bawah.
Menurut Sanjaya (2010:78) proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan dengan empat langkah, yaitu sebagai berikut. 
a. Langkah pertama, dimulai dari pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota tim biasanya terdiri dari pejabat yang ada di bawahnya, seperti para pengawas pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan bisa juga ditambah dari tokoh dunia kerja. Tugas tim pengarah ini adalah merumuskan konsep dasar, garis-garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah, dan tujuan umum pendidikan. 
b. Langkah kedua, menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Anggota kelompok kerja ini adalah para ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, ditambah dengan guru-guru senior yang dianggap sudah berpengalaman. Tugas pokok tim ini adalah merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan alat atau petunjuk evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru. 
c. Langkah ketiga, apabila kurikulum telah selesai disusun, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. Bila dianggap perlu kurikulum itu diuji cobakan dan dievaluasi kelayakannya oleh suatu tim yang ditunjuk oleh para administrator. Hasil uji coba tersebut digunakan sebagai bahan penyempurnaan. 
d. Langkah keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu. Berdasarkan langkah-langkah pengembangan seperti yang telah dijabarkan di atas tampak bahwa dalam model pengembangan kurikulum ini guru hanya sebagai pelaksana kurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kebijakan. 

2) The Grass-Roots Model Inisiatif pengembangan kurikulum dalam model ini dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator. Dalam model pengembangan ini, seorang guru, sekelompok guru, atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. 
Model grass-Root ini didasarkan atas empat prinsip yang dikemukakan oleh Smith, Stanley, dan Shores dalam Arifin (2012:139), yaitu: 
a) Kurikulum bertambah baik jika kemampuan profesional guru bertambah baik. 
b) Kompetensi guru akan bertambah baik jika guru terlibat secara pribadi di dalam merevisi kurikulm. 
c) Jika guru terlibat dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menyeleksi, mendefinisikan dan memecahkan masalah, mengevaluasi hasil, maka hasil pengembangan kurikulum akan lebih bermakna. 
d) Hendaknya diantara guru-guru terjadi kontak langsung sehingga mereka dapat saling memahami dan mencapai suatu konsensus tentang prinsip-prinsip dasar, tujuan, dan rencana. 

Adapun kondisi yang memungkinkan guru dapat melakukan pengembangan kurikulum berdasarkan model grass-root ini menurut Sanjaya (2010:80) adalah sebagai berikut. 
a) Manakala kurikulm itu benar-benar bersifat lentur sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk memperbaharui atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan. 
b) Pengembangan kurikulum hanya mungkin terjadi manakala guru memiliki sikap profesional yang tinggi disertai kemampuan yang memadai. 

Menurut Sanjaya (2010:80) ada beberapa langkah pengembangan kurikulum yang dapat dilakukan sesuai dengan model Grass-Root ini, yaitu sebagai berikut. 
(1) Menyadari adanya masalah, diawali dengan keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya dirasakan ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau masalah kurangnya motivasi belajar siswa dan lain sebagainya. 
(2) Mengadakan refleksi, setelah dirasakan adanya masalah selanjutnya mencari penyebab munculnya masalah tersebut. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan, atau melakukan diskusi dengan teman sejawat, dan mengkaji sumber dari lapangan. 
(3) Mengajukan hipotesis, berdasarkan hasil kajian refleksi, selanjutnya guru memetakan berbagai kemungkinan munculnya masalah dan cara penanggunalangannya. 
(4) Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan. 
(5) Mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus-menerus hingga terpecahkan masalah yang dihadapi. 
(6) Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass-root. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi sehingga memungkinkan dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar. 

Berdasarkan penjabaran di atas bahwa di dalam model grass-root ini peranan guru sebagai implementator perubahan dan penyempurnaan kurikulum sangat menentukan. Tugas para administrator dalam pengembangan model ini hanya sebagai motivator dan fasilitator. 

3) The Demostration Model 
Model demontrasi pada dasarnya bersifat grass-root, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan kurikulum. 

Menurut Smith, Stanley, dan Shores dalam Sukmadinata (2012:165), model demonstrasi ini terdiri atas dua bentuk, yaitu: 
(1) Bentuk pertama cenderung bersifat formal, sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan penelitian dan pengembangan tentang salah sat atu beberapa segi/komponen kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan ini diharapkan dapat digunakan bagi lingkungan yang lebih luas. Kegiatan penelitian dan pengembangan ini biasanya diprakarsai dan diorganisasi oleh instansi pendidikan yang berwenang, seperti direktorat pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, dan sebagainya. 
(2) Bentuk kedua kurang bersifat formal. Beberapa orang guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri. Dengan kegiatan ini mereka mengharapkan ditemukan kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih baik untuk kemudian digunakan di daerah yang lebih luas. 

Ada beberapa kebaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini (Sukmadinata, 2012:165), yaitu: 
(1) Karena kurikulum disusun dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dihasilkan suatu kurikulum atau spek tertentu dari kurikulum yang lebih parkatis. 
(2) Pengembangan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit kemungkinan untuk ditolak oleh administrator dibandingkan dengan pengembangan yang menyeluruh. 
(3) Pengembangan kurikulum dalam skala kecil dengan model ini dapat mengatasi hambatan yang sering dialami, yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada. 
(4) Model ini menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru. Selain memiliki kebaikan, model ini juga memiliki kelemahan, yaitu bagi guru-guru yang tidak berpartisifasi akan menerimanya dengan separuh hati dan yang terburuk mungkin akan terjadi apatisme. 

4) Beauchamp’s System Model 
Model ini dikemukakan oleh G.A. Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan lima langkah proses pengembangan kurikulum seperti yang dikutip oleh Sanjaya (2010:91) sebagai berikut. 
(1) Menetapkan wilayah atau arena yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut. Wilayah tersebut bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan, kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional. 
(2) Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu: para ahli pendidikan/kurikulum, para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah, para profesional dalam sistem pendidikan, profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat. 
(3) Menetapkan prosedur yang akan ditempuh. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. 
(4) Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum, seperti pemahaman guru tentang kurikulum, sarana dan fasilitas yang tersedia, manajemen sekolah, dan lain sebagainya. 
(5) Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut: evaluasi terhadapa pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah, evaluasi terhadap desain kurikulum, evaluasi keberhasilan anak didik, dan evaluasi sitem kurikulum. 

5) Taba’s Inverted Model 
Pengembangan kurikulum biasanya dilakukan secara deduktif yang dimulai dari penentuan prinsip-prinsip dan kebijakan dasar, merumuskan desain kurikulum, menyusun unit-unit kurikulum, dan mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Tetapi Hilda Taba tidak sependapat dengan langkah tersebut. Alasannya, pengembangan kurikulum secara deduktif tidak dapat menciptakan pembaruan kurikulum dan tidak merangsang timbulnya inovasi-inovasi. Oleh karena itu, kurikulum sebaiknya dikembangkan dengan pendekatan induktif. 

Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba dalam Sanjaya (2010:88), yaitu sebagai berikut. 
(1) Menghasilkan unit-unit percobaan melalui langkah-langkah: 
• Mendiagnosis kebutuhan 
• Memformulasikan tujuan 
• Memilih isi 
• Mengorganisasikan isi 
• Memilih pengalaman belajar 
• Mengorganisasi pengalaman belajar 
• Menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan siswa 
• Menguji keseimbangan isi kurikulum 
(2) Mengujicoba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya. 
(3) Merevisi dan mengkonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba. 
(4) Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum 
(5) Implementasi dan diseminasi kurikulum telah teruji. Pada tahap ini perlu dipersiapkan guru-guru melalui penataran-penataran, lokakarya, serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum. 

6) Roger’s Interpersonal Relations Model 
Model ini berasal dari seorang psikolog Carl Rogers. Rogers berasumsi bahwa kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang terbuka, luwes, dan adaptif terhadap situasi perubahan (dalam Arifin, 2012:142). Kurikulum yang demikian hanya dapat disusun dan diterapkan oleh pendidik yang terbuka, luwes, dan beriorentasi pada proses. Untuk itu diperlukan pengalaman kelompok untuk melatih hal-hal yang bersifat sensitif. Model pengembangan kurikulum Rogers ini tidak memiliki perencanaan kurikulum yang tertulis, yang ada hanya rangkaian kegiatan kelompok. Dengan berbagai bentuk aktivitas dalam interaksi kelompok ini individu akan berubah. 

Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Rogers dalam Sukmadinata (2012:167) yaitu sebagai berikut. 
(1) Pemilihan target dari sistem pendidikan. Dalam penentuan target ini satu-satunya kriteria yang menjadi pegangan adalah adanya kesedian dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif. Selama satu minggu para administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana yang relaks, tidak formal. Melalui kegiatan ini mereka akan mengalami perubahan-perubahan sebagai berikut. 
• He is less protective of his own beliefs and can listen more accurately 
• He finds it easier and less threatening to accept innovative ideas 
• He has less need to protect bureaucratic rules 
• He communicates more clearly and realistically to superiors, peers, and sub-ordinates because hi is more open and less self-protective 
• He is more person oriented and democratic 
• He openly confronts personal emotional frictiona between himself and colleagues 
• He is more able to accept both positive and negative feedback and use it constructively 

(2) Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Sama seperti para administrator, guru juga turut serta dalam kegiatan kelompok. Keikutsertaan guru dalam kelompok sebaiknya bersifat sukarela. Efek yang akan diterima guru-guru sejalan dengan para adminnistrator, dengan beberapa tambahan berikut. 
• He is more able to listen to students 
• He accepts innovative, torublesome ideas from students, rather than insisting on conformity 
• He pays as much attention to his relationships with student as he does to course content 
• He works out problems with students rather than responding in a disciplinary and punitive manner 
• He develops an equalitarian and democratic classroom climate 

(3) Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk kelas atau unit pelajaran. Selama lima hari penuh siswa ikut serta dalam kegiatan kelompok, dengan fasilitator para guru atau administrator atau fasilitator dari luar. Dari kegiatan ini para siswa akan mendapatkan: 
• He feels freer to express both positive and negative feeling in class 
• He works through these feeling toward a realistic solution 
• He has more energy for learning because he has less fear of constant evaluation and punishment 
• He discovers that he is responsible for his own learning 
• He awe and fear of authority diminish as he finds teachers and admnistrators to be fallible human being 
• He finds that the learning process enables him to deal with his life 

(4) Partisipasi kegiatan orang tua dalam kelompok. Kegiatan ini dikoordinasi oleh BP3 masing-masing sekolah. Lama kegiatan kelompok dapat tiga jam tiap sore hari selam seminggu atau 24 jam secara terus menerus. Kegiatan ini bertujuan memperkaya orang-orang dalam hubungannya dengan sesama orang tua, dengan anak, dan dengan guru. 

7) The Systematic Action-Research Model 
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal yaitu hubungan antarmanusia, organisasi sekolah dan masyarakat, serta otoritas ilmu. Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action research. 
Langkah-langkah dalam model ini menurut Arifin (2012:12) adalah sebagai berikut. 
(1) Merasakan adanya suatu masalah dalam kelas atau sekolah yang perlu diteliti secara mendalam 
(2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya 
(3) Merencanakan secara mendalam tentang bagaimana pemecahan masalahnya 
(4) Menentukan keputusan-keputusan apa yang perlu diambil sehubungan dengan maslah tersebut 
(5) Melaksanakan keputusan yang telah diambil dan menjalankan rencana yang telah disusun 
(6) Mencari fakta secara meluas 
(7) Menilai kekuatan dan kelemahannya. 

8) Emerging Technical Model 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis juga mempengaruhi perkembangan perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan-kecenderungan baru yang didasarkan atas hal tersebut yang menurut Sukmadinata (2012:170) diantaranya: 
(1) The behavioral Analysis Model, menekankan pada penguasaan perilaku atau kemampuan. Perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku perilaku sederhana yang tersusun secara hierarkis. Siswa mempelajari perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. 
(2) The System Analysis Model, berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil belajar tersebut. Langkah ketiga adalah mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan. 
(3) The Computer-Based Model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai dengan mengidentfikasi seluruh unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil yang diharapkan. Guru dan siswa diwawancarai tentang pencapaian tujuan tersebut. Data tersebut disimpan di dalam komputer dan dimanfaatkan dalam menyusun materi pelajaran untuk peserta didik. 

Selain delapan model pengembangan kurikulum seperti yang diungkapkan Zais di atas, masih ada model pengembangan kurikulum lain, diantaranya: 
1) Model Tyler Model pengembangan kurikulum 
Tyler lebih bersifat bagaimana merancang kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Proses pengembangan kurikulum Tyler adalah sebagai berikut. 
(1) Menentukan tujuan 
Dalam penyusunan kurikulum, merumuskan tujuan merupakan langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan. Sebab tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan. 
(2) Menentukan pengalaman belajar 
Pengalaman belajar adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. 
Ada beberapa prinsip dalam menentukan pengalaman belajar siswa menurut Sanjaya (2010:85), yaitu: 
• Pengalaman belajar siswa harus seseuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 
• Setiap pengalaman belajar siswa harus memuaskan siswa. 
• Setiap rancangan pengalaman belajara siswa sebaiknya melibatkan siswa. 
• Mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang berbeda. 

(3) Mengorganisasi pengalaman belajar 
Ada dua jenis pengorganisasian pengalaman belajar, yaitu pengorganisasian secara vertikal dan pengorganisasian secara horizontal. Pengorganisasian secara vertikal apabila menghubbungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda. Misalkan, pengorganisasian pengalaman belajar yang menghubungkan antara bidang matematika kelas 5 dan kelas 6. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal jika kita menghubungkan pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama. Kedua hubungan ini sangat penting dalam proses mengorganisasikan pengalaman belajar, hubungan vertikal memungkinkan siswa memiliki pengalaman belajar yang semakin luas dalam kajian yang sama sedangkan hubungan horizontal, antara pengalaman belajar yang satu dan yang lain akan saling mengisi dan memberi penguatan. 
(4) Evaluasi 
Proses evaluasi merupakan langkah yang sangat penting untuk mendapatkan informasi tentang ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi, yaitu: 
• Evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. 
• Evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. 

Ada dua fungsi evaluasi, yaitu: 
• Evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik. Fungsi ini dinamakan fungsi sumatif. 
• Untuk meilhat efektivitas proses pembelajaran. Fungsi ini dinamakan fungsi formatif. 

2) Model Wheeler 
Menurut Wheeler dalam Sanjaya (2010:94) pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang membentuk lingkaran dan terjadi secara terus menerus. Pengembangan kurikulum model ini tampak pada bagan berikut. 
(1) Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bisa merupakan tujuan yang bersifat normatif yang mengandung tujuan filosofis (aim) atau tujuan pembelajaran umum yang bersifat parkatis (goals). Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang bersifat spesifik dan observable (objective) yakni tujuan yang mudah diukur ketercapaiannya. 
(2) Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam langkah pertama. 
(3) Menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar. 
(4) Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar. 
(5) Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan. 

3) Model Nicholls 
Model ini digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi. Langkah kurikulum model Nicholls tampak pada bagan berikut. Berdasarkan bagan di atas maka terdapat lima langkah pengembangan kurikulum model Nicholls (Sanjaya, 2010:95), yaitu: 
(1) Analisis situasi 
(2) Menentukan tujuan khusus 
(3) Menentukan dan mengorganisasikan isi pelajaran 
(4) Menentukan dan mengorganisasikan metode 
(5) Evaluasi 

4) Model Dynamic Skilbeck 
Model ini adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah yang dipeuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Menurut Skilbeck langkah-langkah pengembangan kurikulum dalam Sanjaya (2010:96) adalah sebagai berikut. 
(1) Mengalisis situasi 
(2) Memformulasikan tujuan 
(3) Menyusun program 
(4) Interpretasi dan implementasi 
(5) Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi.

Sumber
Arifin, Z. (2012). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, W. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Sukmadinata,  N. S. (2012). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar